Wednesday, November 12, 2014

Fast Traveler vs Slow Traveler



Dalam hal gaya traveling setidaknya ada dua tipe traveler, yakni fast traveler dan slow traveler. Saya sendiri penganut keduanya. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai kedua tipe traveler tersebut.

Fast Traveler
Sesuai namanya, “fast” berarti cepat. Traveler tipe ini lebih mengutamakan kuantitas. Tidak terlalu lama di suatu kota atau negara sebelum berlanjut ke tempat lainnya. Menurut pengalaman pribadi, ada beberapa alasan kenapa saya memilih tipe ini.

Pertama karena alasan keterbatasan cuti. Orang Indonesia memang termasuk golongan fakir cuti. Dalam satu tahun hanya diberikan jatah cuti tahunan sejumlah 12 hari. Lumayan sih, bisa jadi tiga minggu kalau ditambah weekend dan hari libur nasional. Eits! Tunggu dulu! 12 hari itu masih belum dipotong dengan cuti paksa. Apa itu cuti paksa? Istilah resminya cuti bersama. Intinya kita dipaksa libur oleh pemerintah. Dan lucunya, cuti ini mengurangi jatah cuti tahunan. Biasanya cuti paksa melekat pada Hari Raya Idul Fitri dan Natal. Terkadang juga dipaksa libur kalau ada hari libur nasional yang bertepatan dengan hari Selasa atau Kamis. Jadi hari Senin atau Jumat libur. Jumlahnya dalam setahun antara 4-5 hari. Jadi cuti tahunan orang Indonesia sebenarnya hanya 7-8 hari saja.

Seperti naik Formula 1. Cepat tapi tak sempat menikmati pemandangan.


Kenapa saya tidak menyukai cuti bersama? Tentu saja karena mengurangi jatah cuti tahunan yang sudah sedikit ini. Sebenarnya tujuan pemerintah menetapkan cuti bersama itu baik. Agar masyarakat Indonesia bisa berkumpul lebih lama bersama keluarganya. Juga agar tidak ada karyawan yang bolos pada hari kerja yang diapit hari libur. Tapi masalahnya, tidak semua orang menginginkan libur itu. Cuti itu kan hak pegawai. Biarlah pegawai memilih cutinya sendiri. Janganlah dicampuri.

Alasan kedua karena kedekatan jarak. Ketika saya tinggal di Batam, kunjungan ke Singapura dan Malaysia itu hanya seperti perjalanan antar kota di Jawa. Dekat sekali. Jadi tak ada salahnya melakukan kunjungan singkat ke kedua negara tersebut. Toh saya bisa bolak-balik ke sana karena tarif ferry menuju kedua negara tersebut sangat murah.

Dan alasan ketiga sebenarnya masih terkait dengan alasan kedua, yakni murahnya tiket menuju suatu kota atau negara. Karena tinggal di Batam, saya dapat dengan mudah mengakses Bandara Changi Singapura dan KLIA. Dari kedua bandara tersebut sangat mudah menemukan tiket murah ke negara lainnya di kawasan ASEAN. Definisi sangat murah ini tentunya relatif. Namun bagi saya pribadi, ya nilainya tak sampai Rp500.000. Dengan tiket yang super murah ini, saya bisa melakukan perjalanan weekend sehingga tidak mengurangi jatah cuti tahunan.

Keuntungan menjadi fast traveler menurut saya lebih kepada kepuasan batin. Saya termasuk orang yang cepat bosan dengan rutinitas. Untuk menghilangkan bosan, saya suka traveling. Tak perlu lama-lama, yang penting sering. Sementara kerugiannya, saya tidak sempat menyelami kehidupan warga setempat, memahami sejarah suatu tempat, serta mengetahui tradisinya. Dengan menjadi fast traveler, saya hanya mengejar kuantitas, bukan kualitas. Jadi ibarat naik mobil Formula 1 yang sangat cepat dan bisa ke banyak tempat, tapi kita tidak bisa leluasa menikmati pemandangan sekitar.

Slow Traveler
Kebalikan dari fast traveler, “slow” berarti lambat. Artinya stay lebih lama di suatu kota atau negara. Definisi slow menurut saya dan orang lain tentu bisa berbeda. Bagi saya, apabila stay lebih dari 3 hari di suatu kota, itu sudah tergolong slow. Namun bagi traveler yang melakukan round the world trip, atau traveling berbulan-bulan, 3 hari itu tetap saja tergolong fast. Mari lupakan perbedaan itu. Saya sendiri memiliki beberapa alasan menjadi slow traveler.

Pertama karena saya mengambil cuti tahunan. Dengan mengambil cuti tahunan, saya memiliki waktu traveling yang cukup longgar. Jadi saya bisa memperlambat ritme dengan menjadi slow traveler. Biasanya saya jarang mengambil cuti tahunan agar terkumpul cukup banyak dan bisa diambil sekaligus. Dalam lima tahun terakhir, sebagian besar cuti tahunan saya habiskan untuk perjalanan ke Eropa.

Seperti naik sepeda. Lambat tapi lebih menikmati.

Kedua karena harga tiketnya mahal. Seandainya saya memperoleh harga tiket Rp7.000.000 ke sebuah negara, masak iya hanya satu hari terus kembali lagi. Kalau dibayarin sih oke aja. Tapi kalau bayar sendiri ya ogah. Hehehe...

Ketiga karena saya menyukai kotanya. Ada beberapa kota yang membuat saya betah tinggal berlama-lama di sana. Setidaknya ada dua hal yang saya pertimbangkan. Pertama suasananya, dan kedua biaya hidupnya. Yup, biaya hidup itu juga penting. Kalau terlalu lama tinggal di negara mahal ya bisa bikin dompet makin tipis. Contohnya di Swiss. Saya suka banget dengan setiap kota yang saya singgahi. Tapi biaya hidup yang tinggi memaksa saya tidak berlama-lama di sana.

Keuntungan menjadi slow traveler, kita bisa menyelami kehidupan suatu kota, mengerti sejarahnya, mengunjungi setiap tempat menarik yang ada, juga merasakan atmosfer lokal. Kelemahanya ya tentu saja masalah waktu. Menjadi slow traveler memerlukan waktu traveling yang tidak sebentar. Harus mengumpulkan cuti dulu. Atau mengumpulkan keberanian untuk resign dan traveling berbulan-bulan. Jadi ibarat naik sepeda, jalannya memang lambat, tapi kita bisa benar-benar menikmati setiap detail pemandangan di sekitar.

Saya pribadi lebih sering menjadi fast traveler dibandingkan slow traveler. Koleksi stamp negara di paspor saya memang banyak. Ini tentu menandakan jumlah negara yang sudah saya kunjungi. Namun sebenarnya, pengalaman traveling saya belum sebanyak itu. Karena dari sekian banyak kunjungan, sebagian besar di antaranya hanyalah one day trip. Mungkin dalam beberapa posting-an ke depan, saya akan berbagi tentang perjalanan satu hari ke beberapa negara di Asia dan Eropa.

Pada intinya, baik fast maupun slow traveler itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang satu bukan berarti lebih baik dari yang lain. Saya menganut keduanya, bergantung pada situasi dan kondisi yang ada saat itu. Jika disuruh memilih, tentu saya ingin yang lambat. Namun ketika waktu tidak mengizinkan, sementara keinginan melakukan perjalanan lagi tinggi, fast traveling solusinya.

Kalau Anda termasuk yang mana?

ARTIKEL TERKAIT:

15 comments:

  1. Setuju.. setiap pergerakan slow dan fast itu ada kelebihan masing-masing..jika kita ke sebuah kota yang aman damai penuh dengan keriangan kenapa tidak untuk stay lebih lama.. tapi jika keadaan kota yang tidak menyambut kita.. mengapa juga kita perlu tinggal lebih lama..

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju dengan TT...

      sebagai tambahan, slow atau fast perjalanan kita, yang penting sebenarnya apa yang kita dapat dari perjalanan itu..jadinya pada saya slow atau fast seharusnya tidak menjadi masalah ;-)

      Delete
    2. Yups. Bergantung pada bagaimana cara kita menikmati perjalanan :D

      Delete
  2. Pada saya.. bergantung pada keunikan sesebuah tempat itu untuk menjadi fast atau slow traveller.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi di kota mana ni menurut TT yang unik, aman dan damai? Siapa tahu someday saya bisa ke sana :D

      Delete
  3. Sikitnya cuti tahunan kamu mas Indra...Di M'sia juga bergantung sama ada kita bekerja dengan kerajaan atau swasta... maca saya dapat 30 hari setahun...jangan jeles ye... hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sikit sekali. Mungkin yang paling sikit sedunia. Hahaha... Tetapi jika kerja di perusahaan internasional, bisa juga cutinya tidak mengikuti peraturan pemerintah :D

      Delete
  4. kalo saya di kantor, cutinya banyak deh. defaultnya 12 hari dikurangi cuti bersama jadi 9. Trus ada cuti projek 5 hari per projek. Kalo bisa beresin 2 projek setahun, berarti ada 10 hari cuti ekstra. Ijin juga boleh sehari. Trus tahun ini ada perbaikan sistem di kantor, jadinya cuti yang saya pake ke jepang-korea kemaren 9 hari kerja, ke reset lagi jadi full 9 hari lagi belom dipake. ah bahagianya, hahaha.

    kalo jalan2, saya termasuk semi fast traveller, hahaha. nggak cepat2 amat dan nggak lambat2 amat. kecuali bawa orang tua, baru jd very slow traveller :D

    ReplyDelete
  5. kalo gw dulu ada paid leave yang ngikutin aturan 12 hari setaun itu. ada juga un-paid leave, klo ini tgtg ijin boss tp gajinya dipotong :p

    ReplyDelete
  6. Saya masuk fast traveller karena memang keuangan terbatas Mas Indra..hehe. Kalau lama-lama di negara orang takut kehabisan uang..heheh.

    ReplyDelete
  7. Aku dong 24 hari..ga pake potong cuti bersama pula. Trus ada mandatory leave 10 hari kerja berturut2 harus diambil dlm setaun dan selama itu ngga boleh connect ke server/email ktr. Merem deh liburannya...
    Gw rata2 Fast Traveler sih kayaknya karena emang gw kalo jalan cepet...hahaha bukan gitu ya definisinya....

    ReplyDelete
  8. sedikitnyaa cuti tahunan di sana..kalau camtu mmg x dapek lah JM nk travel setahun 4-5 kai hiks...alhamdulillah..JM skrg dapat cuti tahunan 35 hari itu belum di tambah sama carry forward dari tahun sebelumnya boleh cecah 40++

    Kalau JM slow traveller or fast traveller JM pilih kedua-duanya kerana itu semua bergantung kepada destinasi yg di tujui. Jika tempat nye menarik bangat haruslah slow traveller..dan sebaliknya

    ReplyDelete
  9. iya, sewaktu kuliah saya sering slow traveler. Sekarang, pas sudah kerja, jangankan fast traveler, Traveling aja belum ke mana-mana soalnya belum dapat cuti

    ReplyDelete