Sunday, November 9, 2014

Kereta Api Indonesia Dulu dan Sekarang


Saya sedikit tergelitik menulis posting-an ini setelah mendengar suara miring tentang mantan Direktur Utama PT.Kereta Api Indonesia (PT.KAI) yang kini diangkat menjadi Menteri Perhubungan RI, Pak Ignasius Jonan. Saya tidak mengenal Beliau secara pribadi dan belum membaca biografinya. Saya juga tidak tahu bagaimana Beliau memimpin PT.KAI. Namun saya hanya ingin berbagi pengalaman mengenai perubahan radikal di tubuh PT.KAI sejak Beliau menjabat sebagai Direktur Utama. Tentunya dari sudut pandang penumpang. Bukan dari sudut pandang pegawai PT.KAI ataupun pihak-pihak yang merasa dirugikan. Jadi posting-an ini sama sekali tidak bermaksud menyudutkan pihak-pihak tertentu. Harapan saya hanya satu. Kereta api Indonesia menjadi semakin baik lagi.

Sebagai mahasiswa di Jakarta dengan uang saku pas-pasan, dulu saya sangat mengandalkan transportasi kereta api untuk pulang kampung ke Semarang. Kereta api menjadi satu-satunya moda transportasi termurah. Bayangkan, pada kurun waktu tahun 2005-2009 saya kuliah, tiket kereta api kelas ekonomi dari Jakarta menuju Semarang hanya Rp28.000. Jadi pulang pergi hanya Rp56.000. Murah banget kan? Namun sayangnya, harga tiket yang murah itu berbanding lurus dengan pelayanannya. Nah, ini perbedaan yang saya rasakan sebagai penumpang kereta api, dulu dan sekarang.

Stasiun Kereta Api Bandung

Pembelian Tiket
Dulu kalau ingin membeli tiket, satu-satunya cara adalah datang ke stasiun. Di sana kita akan dilayani oleh staf loket yang jutek, tidak pernah senyum, dan kadang suka marah-marah kalau calon penumpangnya banyak tanya/request. Belum lagi kalau masa peak season, antrean di loket bisa sangat panjang dan berjam-jam. Agak merepotkan juga kalau 30 hari sebelum keberangkatan (batas waktu tiket mulai bisa dibeli), bertepatan dengan hari kerja/masuk kuliah. Terpaksa bolos deh kalau kepengen dapet tempat duduk. Soalnya tiket yang dijual tidak sejumlah tempat duduknya. Jadi tetap ada tiket yang dijual tanpa tempat duduk.

Sekarang tiket kereta api bisa dibeli di call center dan situs kereta api, juga situs-situs pembelian tiket lainnya. Bisa juga beli di Alfamart, Indomaret, PT. POS, dan lain sebagainya. Banyak cara dan banyak tempat. Pembayaran bisa dilakukan dengan tunai, transfer, ataupun kartu kredit. Tiket juga bisa dibeli 90 hari sebelum keberangkatan. Pada masa peak season, kita tidak perlu antre berjam-jam di loket. Cukup menyiapkan koneksi internet kecepatan tinggi untuk memesan tiket secara online. Kemudian, tiket yang dijual sesuai dengan jumlah tempat duduk yang tersedia. Jadi tidak ada lagi tiket tanpa tempat duduk. Dan satu hal lagi, jika kita datang ke stasiun, staf ticketing maupun customer service yang melayani sudah berseragam layaknya teller bank ataupun pramugari serta melayani calon penumpang dengan ramah disertai senyuman. Mereka juga sabar menghadapi berbagai macam karakter calon penumpang. Pelayanan PT.KAI sekarang lebih berorientasi pada customer.

Ada perubahan tentu ada pula dampak negatifnya. Dengan banyaknya alternatif pembelian tiket, tentunya mengurangi atau bahkan menghilangkan pendapatan para calo atau joki antre tiket. Kemudian maraknya pembelian tiket melalui internet juga membuat kalangan kelas bawah yang belum familiar dengan internet, kesulitan memperoleh tiket. Dan dengan ditiadakannya tiket tanpa tempat duduk, tiket kereta api menjadi eksklusif. Bukan dalam artian mahal, tapi sulit didapat. Sementara penambahan rangkaian kereta api belum sebanding dengan permintaan kursi.

Tiket
Dulu dalam satu lembar tiket bisa untuk empat orang. Kolom nama pada tiket pun hanya sekadar syarat. Sekarang satu lembar tiket berlaku untuk satu penumpang. Nama harus sesuai dan dilakukan pengecekan sebelum memasuki plaftorm kereta. Dampaknya tentu saja mematikan pendapatan para calo. Terkadang juga jadi masalah kalau ada calon penumpang yang lupa membawa kartu identitas seperti KTP, SIM, ataupun Paspor.

Stasiun
Dulu stasiun kereta jadi tempat berkumpul banyak kalangan. Mulai dari penumpang, pedagang asongan, copet, sampai preman. Akses masuk ke dalam stasiun bisa dikatakan bebas karena cukup hanya dengan membayar Rp2.000, kita bisa bebas memasuki area platform kereta. Implikasinya jelas suasana stasiun menjadi sangat crowded. Kecopetan di stasiun mungkin sudah menjadi hal biasa. Stasiun jadi area yang tidak aman. Selain itu, kondisi toilet sangat jorok dan berbayar. Musholla pun juga ada yang berbayar. Parah! Mau beribadah kok disuruh bayar.

Sekarang area platorm stasiun hanya diperuntukkan untuk calon penumpang yang akan berangkat. Penumpang yang jadwal berangkatnya masih lama nggak diizinin masuk. Apalagi bukan penumpang. Kejahatan bisa jauh berkurang karena minimal pelakunya harus mengeluarkan modal membeli tiket. Ditambah lagi petugas keamanan stasiun saat ini jumlahnya sangat banyak. Toilet sekarang jauh lebih bersih karena ada petugas pembersih yang berjaga. Selain itu juga gratis. Bukan hanya toilet yang di dalam stasiun, tapi juga di luar stasiun.

Sayangnya, musholla belum dibenahi. Memang sudah tidak ada musholla berbayar. Tapi kondisi musholla di banyak stasiun sangat memprihatinkan. Dari beberapa stasiun yang sudah saya kunjungi, baru Stasiun Jakarta Pasar Senen yang menyediakan tempat sholat yang luas dan nyaman. Yang lainya belum. Tengok saja musholla Stasiun Jakarta Jatinegara yang berada di sisi seberang platform stasiun. Kita harus menyeberangi seluruh jalur di stasiun tersebut. Agak merepotkan kalau ada kereta berhenti. Jika pintu keretanya tidak dibuka, berarti harus berjalan memutar menyusuri kereta. Luasnya pun sangat sempit. Stasiun Jakarta Manggarai apalagi. Sebagai stasiun transit, kondisi musholla pun malah lebih parah dari Stasiun Jatinegara. Kondisi ini sangat parah terutama ketika tiba waktu sholat maghrib yang pendek dan bertepatan dengan jam sibuk orang pulang kantor.

Selain itu, sterilisasi stasiun juga menurut pendapat saya pribadi agak arogan. Coba perhatikan bagian luar Stasiun Jakarta Pasar Senen. Di depannya dibangun pagar tinggi. Padahal di balik pagar itu banyak pedagang makanan masyarakat kelas menengah ke bawah. Sebagai gantinya, berdiri Seven Eleven dan Dunkin Donuts di dalam stasiun. Yang perlu dipahami oleh jajaran direksi dan pengambil keputusan di PT.KAI, pelanggan kereta bukan hanya masyarakat menengah ke atas. Tapi juga masyarakat menengah ke bawah. Sebaiknya kios-kios warteg atau warung makanan itu tidak diusir, tapi ditata agar lebih rapi dan juga dijaga keamanannya agar tidak berubah menjadi tempat nongkrong preman.

Gerbong Kereta
Dulu naik kereta ekonomi jauh dari kata nyaman dan aman. Jika berangkat dari Jakarta pada siang atau sore hari, banyak preman ikut naik kereta. Ada yang menyamar jadi pengamen dan tukang sapu, ada juga yang tidak menyamar alias blak-blakan. Intinya mereka suka memalak penumpang dengan cara kekerasan. Kemudian jika tidak mendapat tempat duduk, kita harus duduk di lantai. Bolak-balik dilangkahi (kadang-kadang sampe ketendang) pedagang asongan yang ikut naik kereta dan berlalu silih berganti. Para komuter kereta api ekonomi jaman dulu tentu masih teringat kata-kata, “Yaa akua mijon mijon pokari akua”. Hehehe... Mereka ini juga jarang yang membawa kantong plastik untuk membuang sampah. Langsung aja gitu dibuang di lantai tempat kami para penumpang duduk lesehan. Jika masa lebaran tiba, penumpang akan luar biasa banyaknya sampai-sampai mau duduk pun sulit. Maksimal hanya bisa jongkok. Ditambah lagi para smoker yang tiada henti mengasapi kereta. Para smoker yang santun biasanya merokok di pintu kereta dan asapnya diarahkan ke luar. Tapi banyak juga yang merokok di kursi dalam gerbong dan tidak peduli penumpang lainnya. Perjalanan juga bisa sangat lama karena jalurnya belum double track dan kereta ekonomi sebagai kasta terendah harus selalu mengalah apabila berpapasan ataupun didahului kereta yang lebih mahal.

Sekarang tidak ada lagi pengamen dan tukang palak di kereta. Petugas keamanan yang ikut naik kereta pun cukup banyak dan rutin melakukan patroli. Pedagang asongan yang berlalu-lalang kini tidak ada lagi. Berganti dengan petugas restorasi kereta yang menjual makanan dengan harga yang luar biasa mahal. Saya lebih suka membawa bekal makan sendiri. Para penumpang juga memperoleh jaminan tempat duduk dan kini kereta dilengkapi mesin pendingin. Merokok tidak lagi diizinkan di dalam kereta. Hanya boleh di tempat tertentu di stasiun ketika kereta berhenti. Memang agak merepotkan bagi para smoker kalau naik kereta eksekutif yang jarang berhenti. Dan waktu tempuh menjadi tidak jauh berbeda antara kereta ekonomi dan eksekutif dengan adanya double track.


Dampaknya juga sama dengan sterilisasi stasiun. Banyak masyarakat menengah ke bawah yang kehilangan pekerjaan utama. Menurut saya yang perlu diberantas premannya saja. Sementara pedagang kecil bisa diberdayakan berjualan di stasiun dengan menempati kios. Atau direkrut restorasi kereta.

Demikian pengamatan saya sebagai penumpang kereta. Ada yang mau menambahkan?

ARTIKEL TERKAIT:

8 comments:

  1. jadinya suka yg dulu atau yang sekarang kalau di tanya sama JM pastinya suka cara pentadbiran yg sekarang lebih teratur dan tersusun malah masih perlu ada penambahbaikan. it's just my opinion coz setiap org ada alasan tersendiri :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sebagai penumpang tentu suka yang sekarang. Hanya kasihan pada orang2 kecil yang dipinggirkan :(

      Delete
  2. Stasiun KA Bandungnya jadi rapi sekali. Setuju sih pedagang kecil diberdayakan. Tapi bukan berarti keteraturan, kebersihan dan keamanan jadi terabaikan.

    Jadi klo keteraturan, kebersihan dan keamanan tetap terjaga, justru saudara-saudara kita yg dibilang org2 kecil itu bsa belajar dan mengikuti keteraturan dan kebersihan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... Maksudnya pedagang kecil Mbak. Salah ngucap sayanya. Memang dengan adanya keteraturan, kita semua jadi ngerasa nyaman dan aman. Emang agak susah dibiasakan pada awalnya, tapi lama2 jadi terbiasa :D

      Delete
  3. Replies
    1. Dan semoga tidak berhenti sampai di sini tetapi masih terus berlanjut perbaikannya :D

      Delete
  4. Sayang tempat parkir di statsiun Bogor masih tidak bisa menampung jumlah mobil yang banyak, padahal lahan parkir sudah diperluas banget. Kalau lahan parkir statsiun kereta api Bogor dibikin bertingkat-tingkat dan bisa menampung ribuan mobil, pasti jakarta ngak akan macet tuh Mas Indra. Apalagi kalau bikin Jalur kereta api ganda yang baru misalnya dari setul-citeureup-cibubur-jakarta. Terus di setiap statsiun dibuat tempat parkir mobil yang dapat menampung ribuan mobil, jakarta ngak akan macet kali ya Mas Indra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Mas. Agak lucu nih Pemprov DKI. Ngelarang motor di jalan protokol, tapi transportasi umum belum digarap sempurna. Sebagai perbandingan, saya kerja di Jakarta Timur pulang kantor jam 5 sore. Habis itu lanjut kuliah di Kuningan jam setengah 7. Kalo naik busway itu 2 jam. Udah telat kuliah, nggak sempet sholat maghrib pula. Tapi kalo naik motor cuma setengah jam. Tiba-tiba motor mau dilarang aja.

      Seandainya sistem transportasi Jakarta bisa kayak Singapore. Stasiun MRT-nya menjangkau seluruh kota. Gerbongnya banyak. Dan pada saat peak hour intensitasnya 1 menit sekali. Siapa yang nggak tertarik naik MRT. Dibandingin sama kita. Busway bisa dibilang cuma satu gerbong. Intensitasnya bisa 15-30 menit sekali. Setiap bus datang, belum tentu antrean maju karena kondisinya yang udah penuh.

      Kalo mau cara ekstrem, mungkin pemerintah bisa berinvestasi memindahkan seluruh instansi pemerintah yang ada di Jakarta ke daerah2 kali ya? Biar kepadatannya merata. Kayak di Malaysia yang punya Putrajaya dan di Belanda yang ada Den Haag.

      Delete