Wednesday, January 7, 2015

Selamat Tinggal Tiket Promo

Akhir tahun 2014 lalu dunia penerbangan kembali berduka karena jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 dalam penerbangannya dari Surabaya menuju Singapura. Melalui posting-an ini saya ingin menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada seluruh keluarga korban. Selanjutnya saya juga memberikan penghargaan yang tinggi kepada pemerintah atas kecepatan dan dedikasinya dalam mencari korban maupun puing pesawat termasuk black box. Hanya satu hal yang terasa sangat mengganggu, yakni telah ditandatanganinya Peraturan Menteri Perhubungan yang mengatur kebijakan tarif batas bawah minimal 40 persen dari tarif batas atas.

Mungkin saat tulisan ini di-publish, peraturan tersebut belum melalui proses yang membuatnya mulai diberlakukan. Informasi mengenai hal ini baru saya peroleh melalui pernyataan Menteri Perhubungan di media massa. Memang dengan hadirnya era keterbukaan informasi, kita harus selektif dalam mempercayai suatu pemberitaan di media massa. Karena memang banyak bermunculan media yang hanya mengejar sensasi dengan judul yang bombastis namun isinya dangkal atau malah hoax. Namun kali ini, beritanya saya peroleh dari media elektronik terpercaya seperti Detik, CNN Indonesia, dan Kompas. Diberitakan, tarif batas bawah yang diperkenankan yakni 40 persen dari tarif batas atas. Ini artinya, kita tidak akan pernah lagi menemukan tiket promo.
 
Air Asia, Maskapai LCC terbaik dunia


Dulu ketika Pak Jonan masih memimpin kereta api, saya menaruh hormat kepada Beliau. Sebagai pengguna setia jasa angkutan kereta api, saya merasakan betul perubahan radikal di tubuh kereta api Indonesia menjadi lebih customer oriented. Saya yakin saat itu Beliau sudah menyelami detail perusahaan yang dipimpinnya, mengetahui letak “sakitnya”, dan memberikan “obat” yang mujarab. Ketika Beliau diangkat menjadi Menteri Perhubungan, saya sangat mendukung. Mudah-mudahan keberhasilan Beliau memimpin PT Kereta Api Indonesia berlanjut ke level yang lebih tinggi, yakni Kementerian Perhubungan.

Pada awal kepemimpinan Pak Jonan, saya merasa Beliau sudah berada pada jalur yang benar. Contohnya dengan adanya ketegasan yang memaksa seluruh maskapai menyatukan airport tax ke dalam tarif tiket pesawat. Selama ini hanya Garuda Indonesia dan Citilink yang sudah menyatukan airport tax. Tahun ini paling lambat Bulan Maret, seluruh maskapai “dipaksa” menyatukan airport tax dengan tiket.

Sayangnya, menurut saya Beliau melakukan blunder setelah terjadinya musibah kecelakaan pesawat Air Asia. Sementara black box belum ditemukan, Beliau tampaknya langsung mem-black list seluruh maskapai penerbangan murah atau yang lebih kita kenal dengan LCC (Low Cost Carrier). Memang Beliau mengelak jika peraturan tentang pembatasan tarif batas bawah dikait-kaitkan dengan maskapai LCC. Tapi dampak dari peraturan ini terikat erat. Dari segi alasan, katanya membantu maskapai agar tidak terjadi perang harga yang berakibat diabaikannya faktor safety. Tapi nggak kayak gitu solusinya, Pak. Tiket promo nggak ada kaitannya dengan faktor safety. Hmm... Apa Bapak lupa? Waktu masih memimpin PT KAI kan juga ada tiket promo kereta api eksekutif mulai dari Rp 50 ribu. Apa itu berarti remnya nggak dicek?

Sebenarnya misi peraturan ini sangat baik. Usaha di bidang jasa penerbangan itu berbiaya tinggi dan tidak mengizinkan ada kesalahan sedikitpun. Dengan adanya persaingan usaha, maskapai berlomba-lomba memberikan harga tiket semurah mungkin untuk mengisi seat-nya. Kondisi ini sering disebut perang harga atau perang tarif. Bagi maskapai besar dengan kondisi keuangan kuat mungkin bisa dipastikan akan selalu memenangi perang. Tapi bagi maskapai kecil, bisa jadi akan selalu kalah. Nah, untuk menghindari kalah bersaing, maskapai menawarkan tiket murah dan mengurangi biaya operasionalnya. Dengan harga tiket yang sangat murah, pendapatan maskapai menjadi sedikit. Pemerintah khawatir maskapai berusaha mengurangi biaya dengan cara mengabaikan faktor keselamatan.

Namun bukannya meningkatkan pengawasan terhadap aspek safety, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan justru “membunuh” maskapai LCC Indonesia. Ibarat ada seekor tikus di lumbung padi, pemerintah memberantasnya dengan cara membakar lumbung padinya. Memang tikusnya akan mati, tapi diikuti juga dengan terbakarnya padi. Maskapai LCC Indonesia dihajar habis semuanya. Dengan adanya peraturan ini, yang paling diuntungkan tentu maskapai full service. Dengan tarif yang tidak jauh berbeda, penumpang tentunya memilih terbang dengan maskapai full service.

Pak Jonan mungkin sudah kaya-raya sehingga barangkali belum pernah naik maskapai LCC. Sekadar info saja Pak, maskapai LCC bisa memberikan tarif murah dengan mengurangi biaya-biaya tanpa mengabaikan faktor safety. Contohnya pengenaan biaya bagasi, ketiadaan inflight meals, ketiadaan inflight entertaiment, jarak antar kursi yang sempit sehingga kapasitas lebih banyak, sistem pembelian tiket, dan lain sebagainya. Selain itu, harga tiket super murah itu tidak setiap hari ada. Sering sekali kami membeli tiket itu berbulan-bulan hingga setahun sebelum keberangkatan. Sementara jika membeli tiket jelang hari keberangkatan, harga tiketnya tidak berbeda jauh dengan maskapai full service, bahkan tak jarang lebih mahal.

Selanjutnya, maskapai full service juga terkadang menawarkan harga tiket yang tidak masuk akal. Contohnya pada 2012 lalu Thai Airways memberikan tarif Rp 2 juta untuk rute SIN-BKK. Tarif ini pada saat itu lebih murah daripada Air Asia (Rp 2,5 juta) dan hanya Rp 100 ribu lebih mahal daripada Tiger Airways (Rp 1,9 juta). Selanjutnya Qatar Airways dalam rangka launching rute Doha-Oslo pada 2011 lalu memberikan tarif Rp 3,5 juta untuk tiket pp nett dari Jakarta/Singapura menuju Oslo. Tarif-tarif tersebut tentunya tidak setiap saat bisa didapatkan. Maskapai-maskapai di dunia tentu tidak sepanjang tahun memberikan tarif murah pada seluruh rute yang dilayaninya. Sementara jika ada maskapai yang terindikasi melakukan pelanggaran dengan mengabaikan faktor safety, justru di situlah pemerintah dapat berperan sebagai regulator dan inspektor. Jangan maskapainya yang dibabat habis.

Satu hal lagi, peraturan ini kabarnya hanya berlaku untuk maskapai Indonesia. Ini artinya (kalau saya tidak salah persepsi), mungkin maskapai asing seperti Air Asia Malaysia, Air Asia Thailand, Tiger Airways, Jetstar, Cebu Pacific, dan maskapai asing lainnya masih bebas memberikan tiket promo untuk rute dari dan menuju Indonesia. Dengan kata lain, maskapai Air Asia Indonesia, Citilink, dan Lion Air bisa jadi akan kalah bersaing jika tetap mempertahankan konsep yang sama, yakni LCC. Apalagi ASEAN open sky sudah di depan mata.

Saya kecewa! Dan saya menyesal pernah mendukung Anda Pak. Benerin dulu tuh internal Kemhub dengan penyempurnaan regulasi (SOP) yang mengikat maskapai plus diperketat juga pengawasannya. Kalau ada pelanggaran, segeralah ditindak tegas. Jangan buruk rupa cermin dibelah. Mudah-mudahan para pengambil keputusan di Kementerian Perhubungan bisa membuka matanya. Kalaupun matanya tetap tertutup, semoga pemberlakuan peraturan ini berhasil digagalkan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) atau lembaga terkait lainnya. Kalau sampai diberlakukan juga dan maskapai Indonesia kalah bersaing dengan maskapai asing, sudah jelas siapa kambing hitamnya.

Sumber:


ARTIKEL TERKAIT:

27 comments:

  1. nice sharing....sedih juga memikirkan tiga buah penerbangan kepunyaan Malaysia dah lenyap dari bumi...

    ReplyDelete
  2. Ketika tragedi ini berlaku saya berada di Jakarta. Berita kehilangan pesawat itu mencemaskan rakan-rakan saya kerana mereka fikirkan saya terlibat. Tapi syukur Allah masih memanjangkan umur saya.Saya naik MAS ketika itu bukannya AA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Nasib manusia hanya Allah yang tahu.

      Delete
  3. Iya sedih ya. Ini jd semacam karena nila setitik rusak susu sebelanga.
    Ibarat mau bunuh nyamuk seekor tapi pake rudal. Overdone it.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak. Tapi sekarang ini maskapai diwajibkan setor laporan keuangan itu udah bener :D

      Delete
  4. Pak Menteri Jonan, sepertinya bingung Mas Indra, akhirnya segala keputusannya tidak dipikirkan dengan baik. Prihatin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga beliau terus belajar dan mengevaluasi diri :)

      Delete
  5. kasian yah perusahaan2 airlines, profit mereka sebenernya ga terlalu besar tapi cost nya tinggi. hampir di semua negara banyak yang pailit, bahkan yang sekelas garuda indonesia aja masih ada problem finansial perusahaannya. anyway salam kenal, makasi buat sharing tentang isu yg lagi update :)

    from: Saturday Love Sunday

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups.... Salam kenal Mbak. Semoga lancar skripsinya :D

      Delete
  6. Sebenernya ga ngaruh pesawat LCC atau enggak, sistem keamanan di indonesia yang harusnya dibenahi. toh ada jg tuh maskapai yang ga low cost tp pesawatnya juga kliatan ngeri ga terawat.
    Lagian pesawat LCC juga ada diseluruh dunia, sistem promo ga jd masalah disana kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa kabar Mila, udah bertaon2 yah nggak ketemu :D

      Delete
  7. Yes, aneh banget alasan untuk menghapus tiket murah itu. Murah kan bukan berarti nggak aman, cuma ada bagian-bagian service yang dihilangkan.

    ReplyDelete
  8. padahal tiket promo gitu gapapa diadain berarti harus diperhatikkan lagi safety nya .. ga semua nya punya uang banyak loh :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, salah satunya ya saya ini. Hehehe... :D

      Delete
  9. sebenernya ga ngaruh juga sih sama adanya tiket promo ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semestinya begitu. Kecuali kalo promonya untuk seluruh seat, seluruh rute, dan sepanjang waktu. Baru deh, pantas dicurigai.

      Delete
  10. Replies
    1. Yoi Bro. Solusi jitu menghadapi sulitnya nyari tiket promo. Mudah2an next time bisa diperluas jadi Austrasia Pass atau Global Pass. Hehehe... :D

      Delete
  11. aku pribadi sih blm pernah nyoba naik pesawat ..jdi gk tahu pengaruhnya dengna tiket promo..hehe

    ReplyDelete
  12. Tiket promo sekarang ini memang banyak di cari oleh para traveller, karena harganya juga miring banget. :)

    ReplyDelete
  13. banyak baget ya memang yang berburu tiket promo hehe memang lebih murah sih tapi takut kejadian air asia xD

    ReplyDelete
  14. Sangar ya mas.. aku aja belum pernah kesana malahan.. apalagi naik pesawat hahaha :D Tapi semoga saja dah bulan depan bisa :)

    ReplyDelete
  15. Mudah-mudahan bapakmenterimembaca ini dan dipikir ulang keputusan yang telah diambil

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak... aamiin,... bapak menteri mah gk pernah internetan...

      Delete
  16. tiket murah namun dengan pelayanan yang keren
    tapi sayang gara2 kejadian waktu lalu jadi takut :D
    padahal banyak yang hunting promo murah

    ReplyDelete