Thursday, March 5, 2015

Menikmati Suasana Volendam

Hari pertama di Belanda, semangat kami sedang tinggi-tingginya untuk berjalan-jalan. Setelah beristirahat sejenak, kami langsung memulai perjalanan. Untuk perjalanan di dalam kota atau yang tidak perlu berpindah home base, kami hanya membawa satu buah daypack, tas kamera dan juga tripod. Saya bertugas membawa daypack dan tas kamera sementara Syani istri saya kebagian membawa tripod dan kamera pocket. Pagi itu, kami akan berkunjung ke Volendam.

Volendam terletak di sebelah utara Amsterdam. Untuk menuju ke sana, kami harus menumpang bus terlebih dahulu dari halte di belakang Stasiun Amsterdam Central. Jadi bukan halte yang terdapat banyak jalur tramnya, melainkan di sisi balik stasiun. Siang itu, tidak banyak turis yang naik bus. Mungkin hanya kami berdua yang turis karena penumpang lainnya tampak seperti penduduk lokal. Bus yang kami tumpangi adalah bus nomor 118 yang tujuan akhirnya Stasiun Purmerend via Volendam. Alternatif lainnya bisa menggunakan bus nomor 110 dengan tujuan yang sama, atau nomor 316 yang memang tujuan akhirnya Volendam. Harga tiket sekali jalan lebih kurang EUR4 dan perjalanan akan memakan waktu sekitar 30 menit. Pembayaran dapat menggunakan OV-Chipkaart atau secara tunai kepada sopir saat naik bus. Di Volendam, halte yang terletak di centrum atau pusat kota Volendam adalah halte Julianaweg atau Zeestraat. Kalau khawatir terlewat, minta tolong saja kepada sopir bus untuk mengingatkan, lalu pilih tempat duduk di bagian depan bus.


Puluhan yacht bersandar di dermaga Volendam

Kesan pertama yang saya dapat setibanya di Volendam adalah turistik. Tapi saya dan Syani nggak ambil pusing. Toh, kami berdua kan juga turis. Tempat pertama yang kami kunjungi di Volendam adalah pusat informasi turis (VVV Volendam) yang terletak di seberang halte bus Zeestraat. Di sana kami bisa berkonsultasi tentang tempat-tempat apa yang bisa kami kunjungi dalam sehari. Peta Volendam juga tersedia secara gratis. Mengikuti saran petugas VVV Volendam, kami berjalan kaki menyusuri Zeestraat hingga dermaga.  Di sini kami melihat kapal-kapal yang bersandar. Sebagian besar adalah yacht. Namun ada pula kapal layar kayu yang tampak eksotis di tengah kerumunan yacht. Di sepanjang dermaga, banyak terdapat toko souvenir, café, dan studio foto.

Nah, studio foto inilah yang menjadi semacam landmark Volendam. Banyak orang ke Volendam hanya ingin berfoto dengan kostum tradisional Belanda. Termasuk juga orang-orang Indonesia, banyak juga yang berfoto di sini. Bahkan pemilik studio foto memajang foto artis dan pejabat Indonesia pada etalase tokonya. Mereka juga membuat tulisan dalam Bahasa Indonesia meskipun tata bahasanya tampak kurang baik. Tapi ini membuktikan bahwa cukup banyak turis asal Indonesia yang berkunjung ke tempat ini. Untuk berfoto di sini, tarifnya mulai dari EUR15 untuk dua lembar foto ukuran sedang, atau satu lembar ukuran besar.

Foto dengan kostum tradisional Belanda

Di Volendam, kami berjalan menyusuri jalanan yang diapit oleh rumah-rumah khas Belanda. Rumah-rumah ini tampak terawat dan juga ada penghuninya. Sebagian besar penghuni yang kami lihat adalah keluarga, baik itu keluarga muda maupun opa oma. Sekilas, tampaknya mereka begitu menikmati kehidupan. Ada yang sedang bahu-membahu membersihkan rumah, mengawasi anak-anak bermain, ataupun hanya sekadar duduk-duduk berdua. Kami jadi kepengen tinggal di sini. Hehehe...

Suasana perumahan di Volendam

Ada kejadian lucu saat kami sedang berfoto di rumah-rumah tadi. Tanpa disadari, ternyata ada sepasang kakek nenek yang berjalan di samping kami. Mereka ikut menoleh ke arah lensa kamera dan tertawa. Mereka tampak bahagia di usia yang sudah senja. 

Pasangan dua generasi

Di ujung perumahan tadi, ternyata ada dermaga lagi. Tapi kali ini hanya dipenuhi yacht. Pemandangannya kurang lebih sama dengan dermaga yang pertama kali kami datangi. Perbedaannya, dermaga yang ini bukanlah area turis. Jadi tampak lebih alami. Kami perhatikan, tak ada turis yang pada saat bersamaan datang ke tempat ini. Setelah beristirahat sejenak, kami pun kembali ke dermaga pertama tadi. Dalam perjalanan kembali ini, Syani menyarankan agar kami melalui jalan yang berbeda. Kalau tadi kami melewati jalan utama, kali ini kami akan melewati jalanan yang lebih kecil. Ujung jalan ini sih kalau kami lihat di peta juga tembus sampai ke dermaga. Jadi kami nggak perlu kembali ke jalan utama lagi.

Kami pun melanjutkan perjalanan, berpegangan tangan, sambil menikmati pemandangan sekitar. Ya mirip-mirip sama film romantis Korea gitu deh. Pura-puranya saya jadi Lee Young Jae dan Syani jadi Han Ji Eun dalam serial TV Full House (Wkwkwk... Jadi ketauan deh berapa umur kita berdua). Dunia ini serasa milik kita berdua. Suasananya pas banget. Namun, suasana romantis ini pudar seketika saat kami hampir sampai di dermaga. Kami dikagetkan oleh suara gonggongan anjing. Anjingnya besar seperti serigala. “Waaa... Ada anjing!!!”. Kami sempat mencoba melewatinya, tapi anjing itu terus menggonggong dan terlihat ingin mengejar. Saya secara refleks mengajak Syani menjauh. Saya memang sedikit fobia sama anjing besar karena pernah dua kali digigit sewaktu kecil. Akhirnya kami berjalan memutar dan kembali ke dermaga melalui jalan utama.

Dermaga Volendam

Dari dermaga tempat kapal bersandar, kami berjalan terus hingga menemukan pesisir yang menghadap ke Danau Markermeer. Di tempat ini tersedia kursi-kursi untuk menikmati pemandangan danau dan juga lalu-lalang kapal ferry dari dan menuju Marken, pulau yang terletak di tengah Danau Markermeer. Kapal ferry ini hanya berjalan pada pertengahan Maret hingga akhir Oktober dengan tarif EUR7.50 sekali jalan. Sedangkan tiket pulang pergi dijual seharga EUR9.95. Tidak terlalu mahal. Hanya saja, kami memilih untuk tidak menaiki kapal ferry ini. Volendam memang ramai turis. Pemandangan danaunya pun sebenarnya tidak terlalu spesial. Ditambah lagi, saya tidak berfoto ala meneer Belanda. Tetapi, duduk santai di pinggir dermaga sambil menikmati es krim itu terasa begitu nikmat.

Pemandangan Danau Markermeer
Burung apa ini ya?
Volendam

Puas memandangi danau dan menikmati suasana Volendam, kami pun berjalan menuju halte bus. Kami akan kembali menuju Stasiun Amsterdam Centraal dan keliling kotanya.

ARTIKEL TERKAIT:

17 comments:

  1. bookkk...gw baru merhatiin, itu caranya bikin listing artikel terkait gimanaaaa dah? nyontek dong...praktis amatan

    maap salah fokus komennya :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... Gw googling2 Mbak. Kalo sekarang ditanya gimana caranya, udah lupa. :D

      Yang jelas, itu pake ngedit html. Cuman musti hati2 kalo nge-paste html dari hasil googling. Soalnya kadang suka ditumpangin link si empunya blog. Ya nggak dosa sih... Cuman yang tanpa free rider juga banyak kok.

      Trus sebelum ngedit, html-nya di backup dulu di notepad. Soalnya kadang suka gagal. Jadi berantakan deh blognya. Bisa gawat kalo nggak punya backup html-nya.

      Delete
    2. iya, dari dulu aku penasaran caranya bikin listing artikel terkait itu. Kayaknya OK banget kalo buat nyari2 tulisan lama atau mengarahkan pembaca ke postingan terkait yang ditulis udah agak lama :)

      Delete
    3. Iyo Mas. Apalagi blogku sempet rusak rss feed-nya waktu migrasi ke domain berbayar. Banyak tulisan yang sepi peminat waktu itu. Tapi berkat "artikel terkait", tulisan2 itu bisa ikutan nongol di tulisan baru :)

      Delete
  2. Pernah bikin cerita setting Volendam jadi sedikit tau tentang daerah itu. Pengen banget kesana, ditambag baca postingan ini. Keren.....

    ReplyDelete
  3. Ditunggu lagi artikel artikel yang menarik om...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siaap... Terima kasih atas kunjungannya om :D

      Delete
  4. asyik ya bisa jalan-jalan ke luar negeri ... mupeng :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke luar negeri sekarang bukan lagi mimpi karena bisa jadi lebih murah daripada dalam negeri :)

      Delete
  5. Baru denger adan kota Volendam Mas Indra. rupanya banyak turis Indonesia juga ke sini ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak banget Mas. Saya sempet papasan beberapa orang Indonesia di sana :)

      Delete
  6. Bisa bayar pake OV chipkaart juga ya ke Volendam? Kalo pake yang 24 hours unlimited OV card bisa juga? Trus gmn sistem bayarnya? Kan klo pake yg unlimited itu bayar €7,5 bisa dipake untuk semua transportasi sepuasnya. Trus klo naik bus 316 ke Volendam itu juga tmasuk unlimited / gmn? Sorry ya byk nanya. Uda cari2 di google masi agak bingung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kemarin bayar cash sih Mbak. Pernah pake 24hrs OV Chipkaart tapi nggak ke Volendam. Dulu sempet nanya mau ke Lisse, ternyata nggak berlaku kartunya. Jadi cuman saya pake keliling Amsterdam naik tram.

      Kalo baca webnya ov chipkaart, sepertinya tercover. Karena nama perusahaan busnya tercantum di situ. Tapi ya sekali lagi CMIIW. Belum pernah nyobain soalnya.

      Delete
  7. wah jadi kepengen ksana neeh... klo diitung2, biaya kesana berapa ya Pak Indra?

    ReplyDelete
  8. yang mau liburan kesana langsung ajah kunjungi di www.winatour.com

    ReplyDelete