Monday, March 2, 2015

Terbang dengan Malaysia Airlines ke Amsterdam

Ini adalah kali ketiga saya menumpang Malaysia Airlines untuk perjalanan ke Eropa. Saat itu di penghujung tahun 2013, saya bersama istri sudah berada di Bandara Changi Singapura, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Amsterdam. Dikarenakan keterbatasan limit kartu kredit, kami memperoleh jadwal yang berbeda untuk penerbangan dari Singapura menuju Kuala Lumpur. Sementara penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Amsterdam bisa kembali bersama karena hanya ada satu penerbangan setiap harinya.

Sesuai jadwal, istri saya check in terlebih dahulu. Penerbangan istri ke Kuala Lumpur memang dua jam lebih awal dari saya. Meskipun begitu, saya tetap menemaninya check in. Sekalian saya juga ingin request agar tempat duduk kami berdua pada penerbangan lanjutan ke Amsterdam nanti bisa bersebelahan. Namun di luar dugaan, staf Malaysia Airlines malah menawari saya untuk memajukan jadwal penerbangan saya. Jadi saya bisa terbang bersama istri. Padahal tiket saya promo. Pelayanan Malaysia Airlines memang memuaskan.
Boeing 777-200 Malaysia Airlines at Schipol Airport

Tiba di Kuala Lumpur, kami masih harus menunggu selama empat jam sebelum kembali terbang ke Amsterdam. Waktu tunggu yang cukup panjang itu kami manfaatkan untuk makan dan berkeliling airside Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Bandara ini memang sudah tidak asing bagi saya. Namun bagi istri saya, ini adalah kunjungan pertamanya. Jadi saya ajak dia keliling bandara dari ujung ke ujung. Dan ketika tiba waktunya boarding, kami antusias sekali. Sebentar lagi kami akan meninggalkan benua Asia menuju Eropa. Benua impian kami berdua.

Penerbangan Malaysia Airlines dari Kuala Lumpur menuju Amsterdam, saat itu menggunakan pesawat Boeing 777-200. Tipe pesawat yang sama dengan maskapai Singapore Airlines yang saya gunakan menuju Amsterdam dari Singapura dua tahun sebelumnya, juga maskapai Thai Airways dari Bangkok menuju Singapura. Saya sudah cukup familiar dengan pesawat tipe ini. Jadi saya kurang begitu antusias dengan pesawatnya. Mungkin akan lain cerita kalau pesawat yang digunakan adalah Boeing 787 Dreamliner atau Airbus A350 yang belum pernah saya naiki. Hehehe...

Memasuki kabin pesawat, ada perbedaan yang cukup mencolok dengan pesawat-pesawat sejenis yang sudah pernah saya naiki. Ini tentang konfigurasi tempat duduk. Jika biasanya konfigurasi tempat duduk penumpang kelas ekonomi di pesawat Boeing 777-200/300 itu 3-3-3, kali ini 2-5-2. Sebenarnya konfigurasi 2-5-2 ini lebih bagus. Penumpang yang duduk di dekat jendela akan lebih nyaman untuk keluar masuk menuju lorong/aisle. Ini karena mereka cukup melewati satu tempat duduk saja. Selain itu, bagi penumpang yang perginya berpasangan, tentunya akan lebih nyaman dalam hal privasi.

Saya yang pergi berdua sama istri, harusnya merasa nyaman doong! Tapi itu kalau kami duduk di pinggir atau dekat jendela. Masalahnya, tempat duduk kami terletak di bagian tengah yang ada 5 tempat duduk berderet itu. Dan saya kebagian persis di tengah-tengah, sementara istri duduk di sebelah kiri saya. Kenapa saya tidak memilih tempat duduk yang di pinggir saja? Ternyata ini karena tipe tiket pesawat yang saya beli. Tiket pesawat saya kan promo dan pembeliannya melalui pihak ketiga. Namanya tiket promo, biasanya ada ketidaknyamanannya. Selain tiket yang unrefundable, tempat duduk saya secara otomatis dipilihkan di bagian tengah itu. Sementara tempat duduk istri saya bisa disesuaikan karena kelas tiketnya lebih tinggi. Nggak terbayang, selama 12 jam ke depan saya akan terperangkap di kursi ini.

Sebenarnya hal apa sih yang membuat saya tidak nyaman? Saya bingung juga. Kalau alasannya akses menuju aisle agak sulit karena harus melewati dua penumpang, sepertinya tidak juga. Pada penerbangan-penerbangan sebelumnya, saya biasanya memilih untuk duduk dekat jendela. Dengan konfigurasi tempat duduk 3-4-3 atau 3-3-3, tempat duduk yang harus saya lewati jika ingin ke toilet atau berjalan-jalan di lorong juga dua kursi. Sama saja kan? Setelah saya pikir-pikir, ternyata jawabannya karena letak tempat duduk yang tepat berada di tengah-tengah ini membuat saya merasa seperti terkurung. Belum lagi saya harus berbagi sandaran lengan dengan sebelah kanan dan kiri saya. Posisi tempat duduk ini sebenarnya yang paling saya hindari. Biasanya saya duduk di sini karena nggak kebagian tempat duduk lain, pergi bersama-sama dalam kelompok, atau sedang kurang beruntung. Hahaha...

Konfigurasi tempat duduk kelas ekonomi 2-5-2
Duduk di tengah-tengah selama 12 jam

Konfigurasi tempat duduk kelas bisnis 2-3-2

Meskipun tidak nyaman, syukurlah kami masih bisa menikmati penerbangan ini. Setiap kursi penumpang dilengkapi sarana hiburan yang cukup memadai. Setiap tempat duduknya juga memiliki seat pitch yang cukup lega. Belum lagi menu makanan Malaysia Airlines yang enak dan cocok dengan lidah saya. Awak kabin Malaysia Airlines juga tak henti-hentinya menawari kami minuman dan snack.
First meal: Chicken Potato
Second meal 1: Nasi Lemak
Second meal 2: Cheese Omelette

Setelah 12 jam penerbangan, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Schipol Amsterdam. Keluar pintu pesawat, terjadi antrean panjang karena setiap penumpang diperiksa kelengkapan dokumennya. Padahal biasanya tidak seperti ini. Mungkin karena ada alasan tertentu. Proses imigrasi kami sendiri sangat cepat. Kami hanya ditanya tinggal dimana. Dan setelahnya, paspor kami langsung di-stamp. Kemudian kami mengambil bagasi dan berjalan keluar bangunan terminal. Kini tibalah saatnya bagi saya untuk mengucapkan kepada istri, “Welcome to Europe, my wife!

Dan perjalanan honeymoon yang sudah kami nantikan sekian lama pun ada di depan mata. Yeay! Let’s start the journey!

Welcome to Europe, my wife!



ARTIKEL TERKAIT:

17 comments:

  1. 12 jam naik pesawat terasa lama amat ya Mas Indra. padahal mudik lebaran juga di jalanan bisa 12 jam non stop campur dengan kemacetan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas lama banget. Makannya kalo ke Eropa lebih enak naik maskapai timur tengah. Jadi nggak bosen di pesawat. Tapi sebenernya bisa nggak terasa lama karena jadwal terbangnya tengah malem. Biasanya sih saya banyakan tidurnya. Hehehe... :D

      Delete
  2. mungkin skrg pelayanan MAS lbh ciamik lg krn pswtnya udah ga rame lg.
    Duh msh mules klo bayangin insiden pswt2nya MAS

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gw terakhir naik MAS beberapa bulan sebelum kasus MH370. Dan sepanjang yang gw alamin sih pelayanannya waktu itu memuaskan. Tapi emang, setelah tragedi MH370 dan MH17, setiap maskapai ini promosi, ada aja yang meng-counter. Kalo gw sih no comment aja :)

      Delete
  3. Bener juga, duduk berlima dan cuka kenal satu orang itu rasanya aneh. seperti terperangkap. Kalau satu deret teman semua pasti bakal lebih seru dan nyaman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Mas Goiq gimana kabarnya? Hehehe... Iya. Kayak kalo naik pesawat domestik, pasti kita milih tempat duduk kalo nggak jendela ya lorong. Yang di tengah2 serba nggak enak. Kecuali ya kalo sederet temen kita semua.

      Delete
  4. Wah beli dimana emang tiketnya, Mas? Saya pernah beli di Orbitz tapi tetep bisa milih kursi. Bahkan bisa pilih bulkhead seat upper deck A380 waktu itu, haha.
    Tapi emang aneh MAS ini, masa kalo pesen dari pihak ketiga kode booking yang didapet nggak bisa dibuka di manage booking webnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, saya nggak inget. Antara Asiatravel, tripsta, atau ebookers. Salah satunya. Kalo Orbitz, saya belum pernah pake.

      Wah, jalan2 kemana nih naik A380 MAS? Ke Paris atau London? Kalo saya naik A380 kurang suka di upper deck. Soalnya nggak bisa nyandar ke jendela.

      Delete
    2. Hong Kong, Mas. Waktu itu MH masih pake A380 sebelom akhirnya ganti jadi B772. Iya jadi jauh karena ada compartment yang lumayan gede. Tapi bisa dijadiin tempat buat naro snack-snack (waktu itu MAS ngasih banyak, mana ada eskrim juga) sama kabel-kabel. Ini cerita saya naik A380 http://www.jambukebalik.com/2013/06/5-days-5-cities-5-flights-4-countries.html Dulu girang banget karena akhirnya bisa naik pesawat double decker :p

      Delete
  5. Meal di MH memang enak banget menurut saya, compared to GA, AK, QZ, SV.tapi untuk rute pendek seperti CKG-KUL apa sudah ada AVOD nya ya, pengalaman beberapa tahun lalu hiburannya cuma majalah dan koran, padahal GA sudah pakai AVOD.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang sudah hampir pasti ada. Soalnya pesawat narrow body-nya udah Boeing 737 NG semua. Bahkan kita bisa nonton sampe dengan sesaat sebelum disembark. Sementara kalo naik GA, beberapa menit sebelum landing udah dimatiin.

      Delete
    2. Sip, coba Malaysia Airlines lagi klo ada promo :), mumpung skarang lbh murah (turun level) drpda Garuda yang sudah bintang 5.

      Delete
  6. Mau tanya, kenapa terbang ke Eropa lebih enak pakai maskapai timur tengah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam hal lama berada di pesawat sih iya. Timr tengah posisinya lebih kurang di tengah2 Indonesia dan Eropa. Jadi di pesawatnya nggak kelamaan. Bisa refreshing dulu di bandara transit.

      Delete
  7. Meski promo, kalau beli tiketnya langsung ke maskapainya langsung bisa pilih kursi dan menu makanan lho mas. Saya sudah coba qatar airways.

    ReplyDelete