Friday, July 24, 2015

Terbang ke Bangkok Bersama Garuda Indonesia

Setelah dua tahun lalu saya terbang ke Singapura bersama Garuda Indonesia, kali ini saya memilih destinasi impian yang lebih jauh lagi, yakni Bangkok. Selepas subuh, saya sudah harus berangkat ke Bandar Udara Internasional Ahmad Yani Semarang karena pesawat menuju Jakarta akan berlepas pukul 6 pagi. Tepat pukul 5 pagi, saya sudah tiba di bandara. Meskipun sudah city check in sebelumnya, saya masih tetap harus menuju kounter untuk menyerahkan bagasi. Dan seperti biasa, bagasi saya langsung di-tag menuju tujuan akhir, yakni Bangkok.

Penerbangan dari Semarang menuju Jakarta memakan waktu sekitar satu jam. Jadi sekitar pukul 7 pagi pesawat yang saya tumpangi sudah mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Karena masih pagi (namun tidak terlalu pagi), pesawat memperoleh parkir di apron Terminal 2F yang dilengkapi dengan garbarata. Sebuah pengalaman langka karena berdasarkan pengalaman pribadi, dari 10 penerbangan bersama Garuda Indonesia menuju Jakarta, hanya 2 penerbangan saja yang parkir di apron yang dilengkapi garbarata. Selebihnya tentu di remote area dan harus menuju bangunan terminal dengan menggunakan bus. Bahkan selama tahun 2015 ini saya dua kali naik pesawat dan parkir di bagian ujung Terminal 3 Ultimate yang sedang dibangun. Jauh sekali untuk ukuran penerbangan domestik. Mudah-mudahan bangunan terminal baru segera dapat difungsikan sehingga para penumpang Garuda Indonesia dan maskapai anggota Skyteam dapat merasakan kenyamanan tidak hanya di dalam pesawat, melainkan juga di dalam bandara. 
Garuda Indonesia at Suvarnabhumi Airport

Sesampainya di Terminal Kedatangan 2F, saya langsung menaiki eskalator menuju terminal keberangkatan. Selanjutnya saya bergeser ke Terminal 2E dan langsung menuju pemeriksaan imigrasi. Terminal 2E merupakan homebase penerbangan internasional maskapai Garuda Indonesia, setidaknya sampai dengan Terminal 3 Ultimate selesai dibangun. Salah satu keistimewaan terbang dari terminal ini adalah letaknya yang tidak jauh dari pemeriksaan imigrasi keberangkatan. Di terminal keberangkatan, pemeriksaan imigrasi dipusatkan di Terminal 2E. Bagi penumpang yang terbang dari Terminal 2D harus bergeser lagi menuju terminal tersebut setelah pemeriksaan imigrasi. Usai pemeriksaan imigrasi, saya langsung menuju ruang tunggu E4 sebagaimana tertera pada monitor informasi penerbangan.

Pagi itu saya akan menaiki penerbangan GA866 yang sesuai jadwal akan berlepas pada pukul 09.50 dan direncanakan akan tiba di Bandar Udara Suvarnabhumi Bangkok pada pukul 13.10. Perjalanan akan mengambil masa sekitar 3 jam dan tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok. Saat ini Garuda Indonesia melayani penerbangan harian antara Jakarta dan Bangkok sebanyak tiga kali sehari. Pesawat yang digunakan adalah Boeing 737-800 NG berkapasitas 12 tempat duduk kelas eksekutif dan 150 tempat duduk kelas ekonomi. Untuk penerbangan internasional, hampir dapat dipastikan seluruh tempat duduk telah dilengkapi dengan fasilitas inflight entertainment atau AVOD (Audio Video on Demand). Penumpang tidak akan merasa bosan selama penerbangan.

Selama penerbangan menuju Bangkok, para penumpang akan diberikan welcome drink dan inflight meal. Seperti biasa, terdapat dua pilihan menu yang disajikan. Penumpang pun bebas memilih menu favoritnya. Di atas pesawat, para pramugari membagikan kartu imigrasi Thailand yang dapat langsung diisi. Jadi nanti setelah mendarat, penumpang bisa langsung menuju kounter imigrasi dengan lebih cepat. Untuk rute yang dilalui saat itu, setelah berlepas dari Bandara Soekarno-Hatta, pesawat terbang menuju pulau Sumatera dan menyusuri pantai timur Sumatera untuk selanjutnya berbelok ke utara dan menyeberangi Malaysia. Pesawat terus terbang ke utara hingga akhirnya mendarat di Bandara Suvarnabhumi Bangkok.

Jika saya boleh memberi saran dari sudut pandang penumpang dan pecinta dunia aviasi, pertama, terkait menu makanan. Jika pada penerbangan sebelumnya menu makanan terdiri dari dua jenis berbeda, kali ini jenisnya hampir sama. Pada penerbangan ke Bangkok pilihan menu makanannya tidak berbeda jauh dan juga tidak ada perbedaan dengan penerbangan domestik Garuda Indonesia lainnya. Dalam hal jumlah makanan, juga ada penurunan kuantitas. Dulu saya terbang dengan Garuda Indonesia dari Timika menuju Denpasar yang lama penerbangannya lebih kurang sama dengan tujuan Bangkok. Pada saat itu, selain memperoleh makanan sebagaimana biasa, penumpang juga memperoleh sandwich. Jika hal ini juga diterapkan tentu menjadi nilai tambah Garuda Indonesia bila dibandingkan dengan kompetitor.
Menu makanan CGK-BKK Beef Potato
Menu makanan BKK-CGK Nasi Opor Ayam
Kedua, terkait tipe pesawat yang digunakan. Untuk penerbangan langsung menuju Bangkok, Garuda Indonesia bersaing langsung dengan maskapai Thai Airways. Sementara Garuda Indonesia menggunakan pesawat narrow body Boeing 737-800NG, Thai Airways menggunakan pesawat wide body Boeing 777-200/300. Untuk menggunakan tipe pesawat yang sama memang menurut saya terlampau absurd. Saat ini Garuda Indonesia tidak memiliki maupun berencana membeli pesawat Boeing 777-200. Sementara kapasitas tempat duduk pesawat Boeing 777-300ER yang sudah dimiliki Garuda Indonesia terlalu besar jika digunakan untuk melayani rute dari dan menuju Bangkok. Dengan kata lain, jika memaksa menggunakan pesawat Boeing 777-300ER maka load factor akan berkurang.

Solusinya, Garuda Indonesia bisa memaksimalkan penggunaan pesawat Airbus A330-200 yang telah dimiliki. Kapasitas pesawat ini tidak berbeda jauh dengan Boeing 737-800, yakni 36 tempat duduk kelas eksekutif dan 186 tempat duduk kelas ekonomi. Dari sudut pandang penumpang, penerbangan dengan menggunakan pesawat wide body jauh lebih nyaman daripada pesawat narrow body. Pesawat terasa lebih stabil saat melewati turbulence ringan, penumpang yang duduk di dekat jendela atau tengah hanya perlu melewati satu penumpang jika ingin ke toilet (konfigurasi 2-4-2), dan jumlah toilet yang tersedia pun lebih banyak (Rasio penumpang kelas ekonomi dibandingkan dengan jumlah toilet pada Boeing 737-800 hanya 75:1 sementara pada Airbus A330-200 lebih besar, yakni 37:1).

Menurut saya pesawat Boeing 737-800NG hanya cocok digunakan untuk penerbangan domestik, baik yang jarak dekat maupun jarak jauh seperti Papua. Sementara rute internasional, sebaiknya menggunakan pesawat wide body. Tentunya dengan memperhatikan load factor dan ketersediaan armada pesawat Garuda Indonesia. Penerbangan ke Surabaya, Bali, Balikpapan dan Makassar yang selama ini juga dilayani oleh pesawat tipe Airbus A330-200 dan Boeing 777-300ER dapat terus dipertahankan mengingat tingginya permintaan penumpang untuk rute tersebut, selain juga karena faktor utilisasi pesawat antara London-Amsterdam-Jakarta dengan Denpasar-Narita.


Garuda Indonesia telah menjadi pemimpin pasar penerbangan domestik. Kini sudah saatnya Garuda Indonesia melebarkan sayap dan berusaha menjadi pilihan utama penumpang di level regional. Salah satu caranya adalah dengan memberikan nilai tambah. Tentu, Garuda Indonesia sudah memiliki nilai tambah. Siapa yang tidak senang terbang dengan dilayani oleh para pramugari terbaik dunia? Namun jika kedua masukan saya tadi dipertimbangkan, saya yakin Garuda Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi.

Just landed at Suvarnabhumi Airport
Tulisan ini diikutkan dalam #GADreamHoliday Blog Competition. Informasi lebih lengkap silakan lihat di sini.

ARTIKEL TERKAIT:

13 comments:

  1. Wah samaan, saya juga pernah ke Bangkok naik Garuda 2 tahun lalu. Tapi kuantitas makanannya kayaknya sama aja dengan foto Mas. Tapi pilihan saya beda waktu itu, yakni nasi daging atau pasta. Mungkin bisa diliat di sini.

    Daan saya setuju sama point yang deploy wide body di international route. Tapi kayaknya nggak begitu banyak ya wide body-nya GA (nggak tau exact-nya berapa). SIN udah ada yang A332, ayo dong BKK, KUL, dan PER menyusul.

    ReplyDelete
  2. Semoga masukan mas Indra dijadikan bahan pertimbangan oleh garuda. Semoga Garuda semakin jaya dan jadi pemain utama di Dunia.

    ReplyDelete
  3. Gw dari dulu ga demen makanan Garuda...rasanya suka ga seger dan bland kayak pake bumbu perasa gitu..tapi dimakan juga sih..hahaha ya bes gimana lagi..ga ada jualan makanannya macam AA

    ReplyDelete
  4. good luck, smoga menang kuisnya :D

    ReplyDelete
  5. aku setuju banget soal penggunaan pesawat wide body untuk rute internasional. Kalo beberapa rute domestik saja sudah ada yang menggunakan A330-200 secara rutin seperti rute ke Bali, Makassar dan Medan (kalau tidak salah), kenapa untuk rute internasional malah pakai narrow body ?

    ReplyDelete
  6. Bangok mmg bEST...nak pegi lagi

    menariknya menu dalam Garuda Air

    ReplyDelete
  7. dulu waktu pertama kali naik pesawat dan melihat pesawat garuda air, wiiihhhh gede banget, pengen deh naik itu, dan terutama ke bangkok juga, hehehehe

    ReplyDelete
  8. Walaupun price nya di atas rata2 tp maskapai Garuda sangat nyaman bgt *menurutku ^^
    Watch movie
    Watch movie HD

    ReplyDelete
  9. kelihatan kecil ya pesawat Garuda Indonesia vs Thai Airways di BKK Aiport. yang penting load factor nya tinggi, gak gengsi2an gede2an pesawat.ke Jayapura yang lebih jauh daripada ke Bangkok juga pakai 737-800.

    ReplyDelete
  10. Bosan kalah terus?
    Hoki tak datang-datang?
    Deposit terus?

    Gabung saja di ROYALQQ.POKER
    Main dan Buktikan sendiri ^^

    Hanya dengan minimal deposit 15.000,- saja
    anda sudah bisa bermain di semua jenis games populer

    ReplyDelete