Sunday, February 14, 2016

Wisata Bersama Keluarga ke Baturraden (1)

Akhir pekan lalu saya bersama istri dan buah hati kami pergi ke Baturraden yang terletak di Kabupaten Banyumas. Baturraden dapat diakses dengan mudah dari Purwokerto. Sementara itu untuk menuju Purwokerto dari Semarang, dapat menggunakan transportasi bus, travel, atau kereta api. Kami memilih naik kereta api dengan pertimbangan agar anak kami bisa berjalan-jalan selama di perjalanan maupun saat singgah di stasiun antara. Namanya anak kecil, kalau diam terlalu lama dia akan bosan.

Satu-satunya kereta api yang melayani rute Semarang-Purwokerto adalah KA Kamandaka. Setiap harinya, terdapat tiga kali keberangkatan KA Kamandaka dari dan menuju Purwokerto. Dari Stasiun Semarang Tawang maupun dari Purwokerto, kereta memiliki jadwal keberangkatan yang sama, yakni pukul 05.00, 11.00, dan 17.30 dengan waktu tempuh sekitar 5 jam. Kami memilih jadwal perjalanan paling pagi untuk menuju Purwokerto. Harga tiket sekali jalan antara Rp60.000-90.000 per orang. Anak kami tentu tidak dikenakan biaya karena usianya masih di bawah tiga tahun namun dia tetap diharuskan mempunyai tiket agar namanya tercantum dalam manifest. Selama perjalanan, kereta akan singgah di Stasiun Semarang Poncol, Weleri, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Slawi, dan Bumiayu.
 
Lokawisata Baturraden


Pagi itu kursi kereta terisi penuh. Mungkin karena saat itu hari Sabtu pagi sehingga banyak mahasiswa atau pekerja di Semarang yang pulang menuju kampung halamannya di sepanjang pantura. Sesuai dugaan, sepanjang perjalanan anak kami tidak betah berlama-lama duduk di kursi kereta. Saya pun menemaninya berjalan menyusuri lorong dalam gerbong. Saat kereta singgah di stasiun antara, saya ajak dia turun dan berjalan-jalan di stasiun. Selepas Stasiun Tegal, anak saya mulai kelelahan dan setelah digendong ibunya, dia tertidur. Syukurlah, di Stasiun Tegal cukup banyak penumpang yang turun sehingga kami bisa beristirahat dengan cukup leluasa.
 
Anak kami tidak betah duduk lama
Matahari sudah bersinar cukup tinggi ketika kami tiba di Purwokerto. Hal pertama yang kami lakukan adalah menuju Indomaret/Alfamart untuk membeli popok dan cemilan untuk si kecil. Pergi dengan si kecil memang harus well prepared. Namun jika perginya masih ke kota besar, rasanya tidak perlu membawa semua perlengkapan si kecil dari rumah. Itu akan sangat merepotkan. Apalagi kalau transportasi yang digunakan bukan kendaraan pribadi. Barang-barang yang kami bawa dari rumah hanya pakaian, mainan kesayangannya, susu dan makanan untuk di perjalanan.

Dari Stasiun Purwokerto menuju Baturraden, kami memilih transportasi taksi. Tarifnya antara Rp70.000-100.000 tergantung kepandaian kita menawar. Alternatif transportasi yang lebih murah sebenarnya ada, yakni naik angkot dari luar pagar stasiun menuju Terminal Purwokerto. Selanjutnya berganti dengan angkot menuju Baturraden.
Stasiun Purwokerto

Di Baturraden, kami menginap di Green Valley Resort. Penginapan ini merupakan salah satu penginapan terbaik di Baturraden. Bahkan mantan Presiden SBY dan Megawati pernah menginap di sini. Tarif yang ditawarkan mulai dari Rp450.000 dan dapat dipesan melalui situs pemesanan seperti www.booking.com. Namun demikian, penginapan ini tidak terletak di sekitar Lokawisata Baturraden. Kami masih harus naik angkot selama lebih kurang lima menit untuk menuju lokawisata. Memang tidak terlalu jauh, tapi cukup berat jika ditempuh dengan berjalan kaki. Sementara penginapan yang terletak di sekitar lokawisata ternyata jumlahnya cukup banyak. Namun sebagian besar di antaranya sekelas losmen atau maksimal hotel bintang tiga. Salah satu yang cukup terkenal adalah Hotel Rosenda yang juga dapat dipesan melalui www.booking.com.
 
Green Valley Resort Baturraden
Tiba di hotel, kami masih harus menunggu beberapa saat hingga diperbolehkan check in. Berita baiknya, kamar kami di-upgrade dari kelas terendah (superior) menuju kelas executive. Selain lebih luas, kamar executive memilik balkon pribadi yang menghadap ke kolam renang dan lembah. Sementara balkon kamar superior hanya menghadap ke area parkir.

Setelah melakukan perjalanan selama lebih dari lima jam, saya kira si kecil akan kelelahan dan tidur setibanya di hotel. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Anak kami terlihat sangat antusias berada di tempat baru. Kami pun berjalan-jalan di area hotel hingga kolam renang. Rencananya kami baru akan menuju lokawisata esok hari.
 
Interior Kamar Executive

Kolam renang

Keesokan harinya, kami check out pagi-pagi usai sarapan. Sesuai saran resepsionis hotel, kami naik angkot menuju lokawisata. Tarifnya Rp5.000 per orang. Cukup mahal untuk ukuran perjalanan jarak dekat. Tiba di lokawisata, kami segera membeli tiket masuk sebesar Rp14.000 per orang. Si kecil tentu gratis. Tiket masuk ini ternyata mencakup sebagian besar atraksi yang ada di dalam. Beberapa di antaranya perlu membeli tiket tambahan.

Tempat pertama yang kami kunjungi di lokawisata adalah pesawat. Ya, benar, sejak tiba di gerbang masuk lokawisata, ada sebuah pesawat Fokker F-28 yang langsung menarik perhatian saya sebagai pecinta dunia aviasi. Kebetulan sekali saya belu pernah naik tipe pesawat ini. Jadilah saya mengajak istri dan si kecil menaiki pesawat ini dengan membayar tiket sebesar Rp5.000. “Loh, ini ngajak jalan-jalan anaknya atau bapaknya?”, kata istri saya. Hehehe…
 
Pesawat Fokker F28 ex.GA dan MZ
Pesawat ini dulunya dipakai maskapai Garuda Indonesia sebelum dihibahkan kepada Merpati Nusantara. Saat tidak lagi beroperasi, pesawat ini dibeli untuk ditempatkan di Lokawisata Baturraden. Uniknya, perjalanan dari Surabaya (tempat pesawat melakukan penerbangan terakhirnya) menuju Baturraden dilakukan dengan perjalanan darat. Tak terbayang, bagaimana trailer-trailer pengangkut bagian badan pesawat itu melintasi tanjakan Baturraden.

Bagian dalam pesawat ini masih dipertahankan seperti aslinya. Kursi-kursi penumpang masih pada tempatnya meskipun tidak ada lagi sabuk keselamatan. Bagian cockpit tentu menarik perhatian saya. Saya langsung meminta difoto oleh istri. Anak saya? Dengan polosnya malah tertidur. Hehehe…
Narsis dulu ah!

Di dalam pesawat, kami bisa cukup leluasa berfoto karena kebaikan hati bapak penjaganya. Saat mengantre di bawah, bapak itu menanyakan asal kami. Setelah menjawab bahwa kami dari Semarang, bapak itu tampak antusias karena anaknya ingin kuliah di Semarang. Kami pun mengobrol panjang lebar sembari menanti antrean. Bapak itu bercerita bahwa di kala akhir pekan, bisa seribu orang menaiki pesawat ini. Sementara pada hari biasa masih sektar 100 orang yang naik pesawat. Saat kloter pengunjung sebelumnya menuruni pintu keluar, bapak itu menyarankan kami masuk melalui pintu keluar saja agar si kecil bisa memilih tempat duduk yang nyaman. Jadilah kami sudah tiba di dalam pesawat sebelum para pengunjung lainnya.

Ada apa di dalam pesawat? Ternyata kami diputarkan video selama sekitar 10-15 menit mengenai alam. Pada bagian depan kabin pesawat dipasangi LCD dan proyektor. Ada puluhan film yang tersedia, namun kami hanya diizinkan memilih satu buah berdasarkan suara terbanyak. Suasana di dalam pesawat tentu sangat penuh. Banyak di antara pengunjung yang rela mengantre panjang demi bisa merasakan sensasi berada di dalam pesawat terbang. Saya jadi salah satunya. Hehehe…
 
Tayangan tentang Erupsi Gunung Merapi
Interior Pesawat

Usai menyaksikan theater alam di dalam pesawat, kami menghampiri bapak tadi untuk berpamitan. Di luar dugaan, kami malah dipinjami payung. Apapun cuacanya, payung menjadi perlengkapan wajib di lokawisata untuk melindungi si kecil dari panas maupun hujan.

ARTIKEL TERKAIT:

3 comments:

  1. Kabarnya baturaden sdh ada kebun raya baru. Kebun raya baturaden. Betul ngak mas Indra ? Dulu saya pernah ke baturaden sampai air terjun terjauh. Dulu baturaden masih sepi...hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas yang diresmiin Bu Mega Desember kemarin. Tapi belum bersahabat buat turis non rombongan atau nggak bermobil. Belum ada transportasi umum ke sana. Bisa charter sih, tapi harus nyari temen dulu.

      Sebelum kemarin, saya terakhir ke Baturraden hampir dua puluh tahun lalu Mas. Jadi nostalgia masa kecil juga. Hehehe... :D

      Delete
  2. wah Baturaden sudah bagus ya sekarang, terakhir kesana jaman kuliah, hehhee

    ReplyDelete